<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:SimSun; panose-1:2 1 6 0 3 1 1 1 1 1; mso-font-alt:宋体; mso-font-charset:134; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 135135232 16 0 262145 0;}@font-face {font-family:”\@SimSun”; panose-1:2 1 6 0 3 1 1 1 1 1; mso-font-charset:134; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 135135232 16 0 262145 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:SimSun;}@page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;}div.Section1 {page:Section1;}–>

Isu ramah lingkungan mendorong perusahaan memakai kertas daur ulang. Distributor pun makin agresif menjual kertas daur ulang.

Sebenarnya kertas daur ulang tak jauh berbeda dari kertas biasa. Hanya kertas daur ulang 100% lebih lentur disbanding kertas biasa. Sebab serat kertas baru, lebih panjang. Pada proses pembuatan kertas daur ulang, serat serat ini terpotong menjadi lebih pendek, sehingga kertas lebih lentur,

Proses pembuatannya lebih lama, sebelum dibentuk menjadi kertas biasa, kertas bekas dicuci lebih dulu dari tinta yang menempel. Agar tidak meninggalkan racun, tidak diberikan chlorine. Melainkan diberi senyawa ramah lingkungan.

Harga kertas daur ulang lebih mahal karena sebagian besar kertas harus diimpor. Ada dari Amerika, Eropa dan Jepang. Bisa 4 x lebih mahal dari kertas biasa.