Dunia Ritel Indonesia masa depan bakal diramaikan oleh teknologi RFID, yang siap menggantikan barcode. RFID (Radio Frequency Identification) dipercaya bisa mempercepat kegiatan peritel, serta meningkatkan kepuasan serta loyailtas konsumen. Apa saja plus minus teknologi ini ?

RFID adalah benda yang diaplikasikan pada berbagai bentuk, dimana benda ini dimonitor melalui gelombang radio. Dengan gelombang radio, tag dari RFID ini bisa dibaca dalam radius beberapa meter sehingga tidak perlu didekatkan satu persatu dengan mesin pembaca seperti barcode.

Alat ini sebenarnya sudah dikembangkan di Uni Sovyet sejak 1946 digunakan sebagai alat mata-mata, yang kemudian digunakan untuk berbagai bidang. Tag dari RFID ini mempunyai 2 elemen, yaitu microchip berfungsi unutk menyimpan data dan antena, untuk transfer sinyal radio. Tag atau label RFID ini ditempelkan pada barang. Dengan radio yang bisa mentransfer data dari jarak jauh, membuat proses transfer data lebih cepat dan lebih banyak data yang bisa masuk dalam waktu cepat. Akibatnya chek out di kasir bisa lebih cepat.

Perkembangan dunia RFID, akan semakin memperbesar kapasitas yang dimiliki oleh chip RFID. Jika pada kartu magnetik sebuah kartu hanya berisi data konsumen, pada chip RFID kita bisa memasukkan data apapun. Karena kapasitasnya sudah mencapai Megabytes.RFID memiliki keamanan tingkat tinggi, karena itu teknologi ini banyak di taruh di paspor. Beberapa negara seperti Jepang, US, kini mengembangkan paspor berteknologi ini.

Dengan gelombang radio, seorang karyawan bisa mencari sebuah produk yang ingin dicari oleh konsumen. Misalkan toko pakaian di New York menaruh tag RFID di baju yang dijual. Ketika konsumen sedang mencoba baju, mereka bisa melihat informasi tentang baju tersebut lewat mesin pembaca di fiiting room. Dengan kecepatan yang tinggi dalam identifikasi produk yang dicari dan proses chek out yang cepat, konsumen akan semakin puas berbelanja.

Contoh penggunaan RFID di Indonesia adalah kartu Flazz BCA dan Time Zone.

Kendala pengembangan teknologi ini adalah biaya yang tinggi sekitar $ 25 cent / Rp 2500 untuk 1 chip. Agaknya RFID ini tidak bisa digunakan untuk produk dibawah harga Rp 2500 seperti Indomie, lain dengan barcode yang bisa dicetak oleh pemakainya hanya dengan mencetak di kertas dengan biaya yang sangat minim. Oleh karenanya RFID ini hanya bisa digunakan peritel terhadap barang barang yang relatif mahal dengan marjin tinggi. Masalah lainnya adalah di regulasi, karena menggunakan gelombang radio.

disadur dari majalan Marketing