Meski terkesan sederhana, membuat jingle membutuhkan ide dan kreatifitas yang tinggi. Albert Juwono adalah satu pelaku yang serius menekuni bisnis ini. Sudah ratusan jingle yang dihasilkan untuk untuk sejumlah perusahaan besar.

Tak dipungkiri bahwa industri musik di Indonesia belakangan ini mengalami perkembangan yang begitu pesat. Fenomena ini selain disokong oleh para kreatif muda di bidang di tanah air juga karena peran teknologi terus bemunculan. Tengok saja kreatifitas Albert Juwono yang telah merasakan manisnya mendulang rupiah dari bakatnya bermain musik.

Tidak seperti bisnis lain, usaha yang digeluti Albert terbilang beda. Albert membuka usaha khusus memproduksi musik untuk program televisi atau iklan yang lazim disebut dengan jingle.

Bagi pria kelahiran Jakarta ini, musik telah ditekuninya bahkan sebelum ia masu bangku sekolah dasar (SD). Dimulai dari belajar electone (organ) dan piano klasik. Kemudian ia juga sempat belajar jazz piano selama beberapa tahun. Hingga akhirnya Albert berkesempatan mengikuti festival electone, dan pada 1994 menjadi wakil Indonesia ke Asia Oceania Electone Festival. Semenjak itu timbul interest pada synthetizer / MIDI.

Otaknya tak pernah merasa puas. Ia terus belajar cara memprogram musik menggunakan sequencer. Sampai akhirnya Albert menjadi pecandu teknologi digital recording. Merasa sudah cukup ’pede’ dengan kemampuannya barulah Albert memberanikan diri menerima job sebagai arranger. “Selama kuliah, saya sudah freelance sebagai musik arranger, dan telah mulai membuat karya musik untuk industri rekaman Indonesia,” ujarnya

Dari jaringan yang telah dijalinnya selama ini ia memperoleh tawaran mengisi musik untuk program televisi dan iklan. Job awal inilah yang membuatnya mengenal lebih banyak pelaku di industri periklanan. Sampai akahirnya ia benar-benar memutuskan terjun di musik khusus iklan atau televisi. Hingga saat ini sudah ratusan jingle atau musik untuk televisi yang telah ia produksi.

Usaha ini secara serius digeluti sejak tahun 2004.”Karena saya seorang freelancer, maka agak sulit mengatakan kapan berdiri usaha saya ini. Mungkin bisa dibilang saya serius menekuni musik untuk televisi ini sejak tahun 2004, meskipun jauh sebelumnya saya sudah mendapatkan penghasilan dari bermain musik atau sebagai arranger,” kata Albert.

Pelanggan (client) nya saat ini pun telah meliputi hampir seluruh bidang yang ada. “Sejauh ini saya telah membuat musik untuk perusahaan-perusahaan pharmaceutical (pabrik besar farmasi), beauty, stasiun TV besar nasional, beberapa Real Estate besar di kawasan Serpong dan Cibubur, perusahaan-perusahaan multi nasional dan selama ini saya bekerja sama dengan banyak Production House dan Advertasing Agency,” ungkap pria yang enggan menyebutkan omzet dan keuntungannya namun mengakui kalau hasilnya cukup menyenangkan.

Selain untuk iklan, Albert juga mengerjakan musik untuk program-program tv misalnya infotainment dan musik news untuk TV. Secara garis besar, seluruh pekerjaannya hanyalah musik untuk TV.

Ulasan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Pengusaha edisi 92/ Februari 2009.